Jika Anda Bisa Mengetik dan Akses Internet, Anda Sudah Memiliki Syarat yang Cukup Untuk Menghasilkan Uang dari Bisnis Tiket Pesawat Online

BISNIS YANG BIASA TETAPI MEMILIKI POTENSI PENGHASILAN YANG LUAR BIASA

Apakah anda sudah siap untuk Bergabung??

Bergabung? silahkan klik disini

Selasa, 29 Januari 2013

Wildan, lulusan STM peretas situs SBY total kerjai 5.320 situs

Wildan, lulusan STM peretas situs SBY total kerjai 5.320 situs
Situs Presiden SBY di Hack. ©2013 Merdeka.com

Wildan Yani S Hari, pemuda lulusan STM Pembangunan sipil nyatanya tidak hanya meretas situs presidensby.info tetapi juga ribuan situs lainnya. Hal ini diketahui Mabes Polri dengan menyelusuri log file history salah satunya situs service provider www.jatireja.network yang memuat situs SBY.

"Dari hasil online investigation kita bisa mengetahui log file history-nya dan tenyata bukan hanya ini saja situs Jatireja, banyak situs lain, ada 5.320 log ini yang dilakukan tersangka. Tapi yang sudah kita peroleh datanya, Jatireja, polresgunungkidul dan ada juga situs www.presidensby.info yang kebetulan menggunakan isp dari Jatireja ini," kata
Dir Tipid Eksus Bareskrim Polri, Brigjen Arief Sulistyo di PTIK, Jakarta, Selasa (28/1).

Polisi menyatakan, Wildan sama sekali tidak punya kepentingan politik untuk meretas situs SBY. Latar belakang Wildan tak lain hanya iseng. Kini karyawan CV Suryatama itu telah mendekam di Bareskrim Polri.

"Dengan motif iseng saja, hanya mengganti tampilan, tidak ada kepentingan politik. Sehngga dari situs Jatireja kita sudah dapat bukti semua. 5 orang saksi dari pengelola situs juga sudah diperiksa. Dengan barang bukti dari Jember 2 CPU dilakukan penyitaan, saat ini tersangka di Bareskrim," lanjut Arief.

Akibat perbuatannya Wildan dikenai pasal 22 huruf B UU 36/1999 tentang telekomunikasi dan pasal 30 ayat 1, ayat 2 dan atau ayat 3, jo pasal 32 ayat 1 UU no 11/2008 tentang ITE.

Sebelumnya, peretas situs presidensby.info yang berinisial Wildan (22), warga Jember, Jawa Timur, berhasil diamankan oleh tim cyber crime Mabes Polri. WYA juga telah dibawa ke Mabes Polri di Jakarta (25/1).

Pemilik warnet tempat WYA bekerja, Adi Kurniawan mengaku tidak mengetahui kronologi penangkapan peretas situs presidensby.info yang diduga adalah karyawannya itu. Namun yang bersangkutan terakhir kali masuk kerja pada Jumat

"Saya baru dikabari oleh karyawan lain dan handphone WYA juga tidak aktif. Polisi kemungkinan juga membawa komputer server di warnet karena tidak ada di tempat," tutur Adi.

Menurut Adi, pintu sempat terkunci pada Sabtu (26/1) dan kondisi ruangan warnet berantakan serta sepeda motor WYA ada di dalam ruangan. "Kami membuka paksa pintu warnet dan baru yakin kalau WYA ditangkap tim Mabes Polri, setelah melihat ruangan warnet berantakan dan server komputer warnet juga tidak ada," paparnya.

Sebelumnya situs presidensby.info yang menjadi salah satu penyampai informasi dan berita tentang kegiatan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada masyarakat sempat diretas oleh kelompok yang menamakan dirinya 'Jemberhacker Team' pada 9 Januari 2013.

Saat diretas, laman tersebut menampilkan latar belakang hitam dengan tulisan warna hijau di bagian atas 'Hacked by MJL007', sementara di bawahnya tertera sebuah logo pocong dan tulisan 'Jemberhacker Team' berwarna putih.

Saat itu, kepada merdeka.com Jember Hacker Terorist (JHT), peretas situs resmi Presiden SBY, mengaku aksinya meretas situs tersebut karena Presiden SBY dinilai gagal memimpin Indonesia. Sudah dua periode memimpin, SBY dianggap tidak mampu membawa perubahan ke arah yang lebih baik.

"Ketidakberhasilan SBY dalam memimpin negeri tercinta ini, membuat kita (JHT) melakukan pembalasan terhadap SBY," kata perwakilan JHT kepada merdeka.com, Rabu (9/1).

Tidak hanya itu, peretas juga menilai kepemimpinan SBY merupakan masa subur pertumbuhan koruptor di Tanah Air. Bisa dipastikan, dari tingkat pusat sampai daerah, korupsi menjadi budaya yang cepat berkembang, ibarat jamur tumbuh di musim hujan

"Korupsi semakin merajalela, rakyat miskin di mana-mana! Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin," terangnya.

Sumber: merdeka.com

0 komentar:

Poskan Komentar