Jika Anda Bisa Mengetik dan Akses Internet, Anda Sudah Memiliki Syarat yang Cukup Untuk Menghasilkan Uang dari Bisnis Tiket Pesawat Online

BISNIS YANG BIASA TETAPI MEMILIKI POTENSI PENGHASILAN YANG LUAR BIASA

Apakah anda sudah siap untuk Bergabung??

Bergabung? silahkan klik disini

Senin, 13 Juni 2011

Kiat Selamat dari Fitnah Internet

Disusun oleh Ustadz Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah hafizhahullah

Pesatnya perkembangan media komunikasi yang memudahkan interaksi di  antara manusia di segala penjuru dunia, termasuk salah satu nikmat Allah yang wajib disyukuri. Di antara media komunikasi yang berkembang dengan pesat sekali adalah media internet yang merupakan media "wajib" yang  manusia di zaman ini tidak bisa lepas darinya. Perkembangan ini tentu  memiliki efek-efek yang positif dan negatif sesuai dengan acara-acara  yang disebarkan oleh media ini. Maka internet sebagai salah satu produk  kemajuan peradaban adalah ibarat sebuah pisau yang bisa digunakan untuk  hal yang bermanfaat dan bisa digunakan untuk hal yang membuat mudharat  bagi manusia.

Realita yang ada menunjukkan bahwa banyak sekali faedah yang bisa  diambil dari internet. Ia adalah media dakwah yang efektif dan  menjangkau ke seluruh dunia. Begitu banyak perbendaharaan-perbendaharaan ilmu yang terekam dengan baik di
internet baik dari para ulama mutaqoddimin (zaman dahulu) dan muta'akhkhirin  (sekarang). Internet juga merupakan media yang sangat efektif di dalam  mencari penghidupan dengan berbagai metode yang ditawarkan.

Akan tetapi, hal yang tidak boleh kita lupakan ialah bahwa para setan dari kalangan jin dan manusia juga memanfaatkan media internet  ini  untuk kepentingan-kepentingan mereka. Berapa banyak kejahatan-kejahatan  yang berawal dari internet dan berapa banyak kemaksiatan-kemaksiatan  yang berawal dari internet dan menyebar menyebar secepat kilat ke segala penjuru dunia tanpa bisa dibendung.

Lalu bagaimanakah seorang muslim menyikapinya? Insya Allah dalam  pembahasan kali ini akan kami paparkan secara ringkas sikap-sikao yang  selayaknya dilakukan oleh setiap muslim terhadap media internet ini  dengan banyak mengambil faedah dari risalah Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Hamd yang berjudul al-Internet Imtihanul Iman wal Akhlaq wal 'Uqul.

FITNAH INTERNET


Internet merupakan sebuah revolusi besar  di dunia iptek dan media  massa, sebagaimana ia juga sekaligus merupakan medan yang luas untuk  menguji keimanan, akhlaq, dan akal manusia. Di dunia internet  kebaikan  terbuka lebar pintu-pintunya, sebagaimana pintu-pintu kejelekan juga  terpapar dengan berbagai pose. Di dunia internet seseorang bisa  menyuarakan apa saja yang dia mau, dia bisa memuaskan matanya dengan apa saja yang ingin dia lihat, dia bisa menulis dengan tangannya apa saja  yang dia kehendaki, tanpa ada yang menghisabnya, tanpa ada yang  mengontrolnya, dan tanpa ada yang bisa menghentikannya.

Jika seseorang mampu mengendalikan dirinya, menjaga keluhuran  jiwanya, melihat akibat setiap perbuatannya, dan selalu merasakan bahwa  dia selalu diawasi dan terlihat oleh Rabb Sang Maha Pencipta yang Maha  Mendengar dan Maha Melihat –maka dia akan selamat.

Adapun jika dia melepaskan kekang jiwanya, dan mengikuti segala yang  diinginkan hawa nafsunya, tanpa ada kontrol keimanan dan ketakwaan –maka hampir-hampir dia telah membenamkan dirinya di dalam jurang kehinaan  dan melemparkan dirinya di dalam kubangan kenistaan; maka tidak ada  setelah itu kecuali penghinaan jiwa, terenggutnya kehormatan, dan  kebobrokan moral.

KIAT-KIAT MENGHADAPI FITNAH INTERNET


Ada beberapa hal yang bisa membantu seorang muslim di dalam  menyelamatkan diri dari fitnah internet dan bahaya-bahayanya, di  antaranya adalah:

1. Berhati-hati di dalam bergaul dengan internet


Hendaknya seorang yang berakal tidak terlalu percaya diri dengan  dirinya sehingga menjerumuskan dirinya ke dalam fitnah yang kemudian  sulit melepaskan diri darinya.

Sepantasnya baginya jika hendaknya mengirim postingan atau komentar  agar mempertimbangkan sejauh mana akibatnya, hendaknya menjaga diri dari menyakit orang-orang yang beriman dan menyebarkan perbuatan keji di  antara mereka. Hendaknya menjauhkan diri dari pembicaraan yang tidak  berguna, mempermainkan perasaan, menyebarkan tuduhan-tuduhan, dan  mengadu domba di antara manusia.

Jika ingin memberikan komentar atau membantah maka hendaknya dengan ilmu, keadilan, rahmat,adab, dan ungkapan yang sopan.

Jika ingin berpartisipasi maka hendaknya memakai namanya yang asli,  adapun jika mengkhawatirkan dirinya jika menyebut dengan namanya yang  asli atau ingin menjaga keikhlasannya, maka hendaknya menghindari dari  tulisan-tulisan yang tidak boleh dan tidak layak, dan hendaknya selalu  mengingat bahwa nanti akan berdiri di hadapan Allah Ta'ala untuk  mempertanggungjawabkan semua perbuatannya di hari yang ditampakkan semua rahasia.

2. Berhati-hati dari lanngkah-langkah setan


Hendaknya seorang muslim mewaspadai langkah-langkah setan karena  setan adalah musuh, selalu mengintai seorang manusia dan mencarei-cari  segala jalan untuk menjerumuskannya ke dalam kebinasaan. Allah telah  memperingatkan ini dengan berfirman:

ولا تتبعوا خطوات الشيطان إنه لكم عدو مبين


"Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu" (QS. Al-Baqarah [2]: 168)

Seorang yang berakal tidak akan pernah percaya dengan musuhnya  selama-lamanya, tidak melemparkan dirinya ke dalam kubangan-kubangan  fitnah, dan tidak terlalu percaya dengan dirinya betapapun tinggi  kecerdasannya, betapapun dalam agama dan ilmunya. Maka seorang yang  berakal akan menjauh dari fitnah, dan tidak menampakkan diri kepadanya.

Lihatlah bagaimana Nabi Yusuf  'Alaihis Salaam tidak membawa dirinya ke dalam fitnah, tetapi fitnahlah yang datang kepadanya.  Meskipun demikian, beliau tidak perceya diri dengan keimanannya,  ilmunya, dan keutamaannya, bahkan beliau lari dari fitnah, berlindung  kepada Allah dari kejelekannya, dan mengakui kelemahan dirinya dengan  mengatakan:

قال رب السجن أحب إلي مما يدعونني إليه وإلا تصرف عني كيدهن أصب إليهن وأكن من الجاهلين


[Qala rabbi assijnu ahabbuilayya mimma yadAAoonanee ilayhi wa-illa tasrifAAannee kaydahunna asbu ilayhinna waakun mina aljahileen]

Yusuf berkata: "Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada  memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari  padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi  keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh". (QS. Yusuf [12]: 33)

3. Membatasi waktu dan tujuan ketika masuk internet


Di antara perkara yang bisa menghindarkan seseorang dari fitnah  internet adalah hendaknya membatasi waktu di dunia internet dan memiliki tujuan yang jelas ketika masuk ke dalamnya.

Jika dia tidak membatasi waktu dan terus tergiring di dalam  membuka-buka file, dan berpindah-pindah dari satu situs ke situs yang  lain tanpa tujuan yang jelas, maka akan sia-sialah waktunya dan tidak  mendapatkan faedah kecuali sedikit.

4. Memikirkan akibat-akibat dari setiap perbuatannya


Di antara perkara yang bisa menyelamatkan diri dari fitnah internet  adalah dengan memikirkan akibat-akibat dari setiap perbuatannya, dan  hendaknya mengekang jiwanya dengan kekang ketakwaan dan muroqobah.

Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata:

بالله عليك يا مرفوع القدربالتقوى لاتبع عزها بذل المعاصبي, وصابر عطش الهوى في هجير المشتهى وان أمض وأرمض


"Demi Allah, wajib atasmu –wahai seorang yang telah dimuliakan dengan ketakwaan- janganlah engkau menjual kemuliaan takwa dengan kehinaan  maksiat-maksiat, dan bersabarlah dari dahaga hawa nafsu di dalam  panasnya sesuatu yang diinginkan walaupun merasakan sakit dan terbakar." (Shaoidul khothir: 1/45)

5. Menjauhi hal-hal yang merangsang nafsu


Seorang yang masuk ke dalam internet hendaknya menjauhi hal-hal yang  merangsang, menjauhi situs-situs porno, dan forum-forum yang banyak  menyuarakan perkataan-perkataan yang jorok, dan menjauhi  pembicaraan-pembicaraan yang merangsang nafsu dan syahwat.

Hendaknya dia menjauhi gambar-gambar seronok (cabul, porno, Red.) dan tampilan-tampilan yang merangsanng, karena jiwa manusia –dengan tabiat  yang Allah berikan kepadanya dari kecenderungan mengikuti hawa nafsu-  permisalannya seperti mesiu dan segala zat yang mudah terbakar. Zat-zat  ini jika jauh dari hal-hal yang memicu terbakarnya, maka dia akan tenang dan tidak membahayakan. Adapun jika dipicu dengan hal-hal yang  menyalakannya maka akan terbakar dengan cepat.

Demikianlah juga jiwa-jiwa manusia, maka ia akan tenang jika jauh  dari yang memicunya. Jika ia mendekati hal-hal yang memicunya semisal  pemandangan-pemandangan yang merangsang, maka ia akan menggelora hingga  muncul kejelekan-kejelekannya dan memuncak hawa nafsunya.

Al-Imam Ibnu Hazm rahimahullah berkata:

لاتتبع النفس الهوى, ودع التعرض للمحن


ابليس حي لم يمت, والعين باب للفتن


Janganlah engkau ikutkan jiwa terhadap hawa nafsunya

Dan janganlah engkau paparkan kepada fitnah-fitnah

Iblis adalah hidup dan tidak mati

Sedangkan mata adalah pintu terhadap fitnah-fitnah. (Rosail Ibnu Hazm: 1/274)

6. Menundukkan pandangan


Di antara perkara yang menyelamatkan dari fitnah internet adalah  menundukkan pandangan, karena gambar yang jorok (cabul) kadang muncul di hadapan manusia tanpa disengaja. Jika dia menundukkan pandangannya maka dia akan membuat ridhio Robbnya, dan melapangkan hatinya. Sebab,  sesungguhnya mata adalah cermin hati. Membebaskan pandangan akan membawa kepada kebinasaan, sedangkan menundukkan pandangan akan membawa kepada  kelapangan. Jika seorang hamba menundukkan pandangannya maka hatinya  akan menundukkan nafsu dan syahwatnya.

Allah 'Azza wa Jalla berfirman:

قل للمؤمنين يغضوا من أبصارهم ويحفظوا فروجهم ذلك أزكى لهم إن الله خبير بما يصنعون


[Qul lilmu/mineena yaghuddoo min absarihumwayahfathoo furoojahum thalika azkalahum inna Allaha khabeerun bima yasnaAAoon]

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu  adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa  yang mereka perbuat". (QS. An-Nur [24]: 30)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

فجعل سبحانه غض البصر, وحفظ الفرج هو ازكى للنفس, وبين ان ترك الفواحش  من زكا ة نفوس, وزكاةالنفوس تتضمن زوال جميع الشرور من الفواحش, والظلم,  والشرك, والكذب, وغيرذالك


"Allah Subhaanahu menjadikan menundukkan pandangan dan menjaga  kemaluan adalah lebih menyucikan jiwa. Dan Dia menjelaskan bahwa  meninggalkan perbuatan-perbuatan yang keji adalah termasuk kesucian  jiwa, dan kesucian jiwa mengandung hilangnya segala kejelekan dari  perbuatan-perbuatan keji, kezaliman, kesyirikan, kedustaan, dan yang  selainnya." (Iqomatud Dalil 'Ala Ibtholit Tahlil: 3/430)

7. Tatsabbut (memeriksa dengan teliti)


Di antara hal yang diwajibkan atas sesseorang ketika masuk ke dunia  internet adalah hendaknya tatsabbut (memeriksa dengan teliti) dari semua yang dia ucapkan, yang dia dengarkan, yang dia baca, dan yang dia  nukil. Dengan ini maka diketahui keteguhan akal dan keimanan seseorang.

Bagaimana tidak, dunia internet penuh dengan hal-hal yang  bercampur-baur antara yang baik dan yang buruk. Telah menulis di  dalamnya siapa saja dengan nama-nama samaran yang tidak dikenal!

Maka wajib atas seorang yang berakal agar memperhatikan perkara ini.  Jika dia mengetahui suatu berita atau suatu perkara maka hendaknya  tatsabbut tentangnya. Kalau sudah diketahui tentang kebenarannya maka  hendaknya melihat perlu tidaknya dia sebarkan. Jika hal itu akan membawa kepada kebaikan maka hendaknya dikumpulkan dan disebarkan, dan jika  tidak membawa kebaikan maka hendaknya dia lipat dan berpaling darinya.

Berapa banyak terjadi kejelekan dan fitnah dengan sebab kesembronoan  di dalam hal ini. Berapa banyak dari manusia yang mengabaikan akalnya,  dan memperlakukan segala sesuatu yang disebarkan di internet sebagaimana sebuah wahyu yang tidak ada kebatilan di depan dan di belakangnya.

Sungguh telah datang larangan yang jelas dari menyampaikan segala  sesuatu yang didengar. Rosulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam  bersabda:

كفى بالمرء كذبا ان يحدث بكل ما سمع


"Cukup seseorang berdusta jika menyampaikan semua yang ia dengar." (Shahih Muslim: 1/8)

Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman:

وإذا جاءهم أمر من الأمن أو الخوف أذاعوا به ولو ردوه إلى الرسول وإلى أولي الأمر منهم لعلمه الذين يستنبطونه منهم  ولولا فضل الله عليكم ورحمته لاتبعتم الشيطان إلا قليلا



[Wa-itha jaahum amrun minaal-amni awi alkhawfi athaAAoo bihi  walaw raddoohu ilaarrasooli wa-ila olee al-amri minhum  laAAalimahuallatheena yastanbitoonahu minhum walawla fadluAllahi  AAalaykum warahmatuhu lattabaAAtumuashshaytana illa qaleela]
Dan apabila datang kepada mereka  suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu  menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil  Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui  kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil  Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu,  tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di  antaramu).

(QS.an-Nisa [4]: 83)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah berkata tentang tafsir ayat ini:

"Ini adalah pengajaran dari Allah kepada para hamba-Nya tentang  perbuatan mereka yang tidak pantas ini, dan bahwa selayaknya bagi mereka jika datang kepada mereka suatu perkara dari perkara-perkara yang  penting dan maslahat (kepentingan) –maslahat umum dari hal-hal yang  berhubungan dengan keamanan, dan kegembiraan seorang mukmin atau  berhubungan dengan ketakutan yang di dalamnya terdapat musibah atas  mereka- agar mereka bertatsabbut (memeriksa dengan teliti), dan tidak  tergesa-gesa menyebarkan berita itu, bahkan hendaknya mengembalikannya  kepada Rosul dan ulil amri di antara mereka, yaitu para pemikir, ahli  ilmu, ahli nasehat, orang-orang yang berakal dan memiliki ketenangan,  mereka yang mengetahui perkara-perkara dan mengetahui maslahat-maslahat  dan mudarat-mudarat. Jika mereka melihat di dalam penyebaran berita  tersebut terdapat maslahat dan menggiatkan kaum mukminin, merupakan  kegembiraan bagi mereka dan menjaga dari musuh-musuh mereka –maka mereka menyebarkannya. Dan jika mereka memandang apa yang tidak ada maslahat  di dalamnya, atau di dalamnya terdapat maslahat, tetapi mudaratnya  melebihi maslahatnya maka mereka tidak menyebarkannya.

Karena itulah Allah berfirman: "Tentulah orang-orang dari mereka yang ingin mengambil istinbath darinya (akan dapat) mengetahuinya", yaitu  mengambil darinya dengan pikiran mereka dan pendapat-pendapat mereka  yang tepat dan ilmu-ilmu mereka yang benar.

Di dalam ayat ini terdapat dalil bagi sebuah kaidah adab, yaitu bahwa jika terjadi pembahasan di dalam suatu perkara maka selayaknya  diserahkan kepada orang yang kompeten dalam hal itu, diserahkan kepada  ahlinya, dan tidak mndahului di depannya; maka sesungguhnya dia lebih  dekat kepada yang benar dan lebih dekat kepada keselamatan dari  kesalahan.

Di dalamnya terdapat larangan dari tergesa-gesa dan bersegera  menyebarkan perkara-perkara di saat mendengarnya,dan perintah untuk  merenungi sebelum berbicara, dan melihat di dalamnya apakah dia  merupakan maslahat sehingga seseorang maju kepadanya atau tidak sehingga dia mundur darinya." (Taisir al-Karimir Rahman hlm. 190)

8. Berhati-hati di dalam mengemukakan pendapat


Di antara hal yang perlu diperhatikan oleh orang yang berakal adalah  hendaknya tidak terlalu bersemangat ketika mengemukakan pendapatnya di  dalam sebuah perkara, dan tidak mengucapkan semua yang dia ketahui.  Bahkan seyogyanya ia memperhatikan maslahat-maslahat. Tidaklah baik  baginya mengemukakan pendapatnya di dalam semua perkara kecil dan besar, dan tidak wajib atasnya berbicara pada setiap peristiwa karena kadang  dia belum memiliki gambaran perkara sebagaimana mestinya, kadang salah  perkiraan dan menyelisihi kebenaran. Dan orang-orang Arab mengatakan di  dalam hal seperti ini:

الخطأ زاد العجول


"Kekeliruan adalah bekal orang yang tergesa-gesa" (Lihat Bahjatul Majalis wa Unsul Majalis: 1/55)

Adapun jika berhati-hati dan pelan-pelan maka akan lebih bisa membuat jernih tabiat, akan lebih menetapkan pendapat, dan akan lebih  menyelamatkan dari kesalahan. Orang-orang Arab memuji orang yang  berhati-hati, tidak tergesa-gesa, dan membolak-balik perkara atas dan  bawah dengan mengatakan:

انه لحول قلب


"Sesungguhnya dia adalah pandai mengusahakan dan membolak-balik perkara." (Lihat ash-Shihah oleh al-Jauhari: 2/91)

9. Berucap sesuai dengan kadarnya


Hendaknya seorang yang berakal berucap sesuai dengan kadarnya, dan  menjauhi mubalaghoh (berlebih-lebihan) dan membesar-besarkan perkara,  karena suatu hakikat akan hilang dengan adanya pengungkapan yang  berlebihan dan meremehkan. Orang-orang Arab mengatakan di dalam pepatah  mereka:

خير الناس هذا النمط الاوسط


"Sebaik-baik manusia adalah tipe yang tengah-tengah." (Lihat al-Muhkam wal Muhith al-A'zhom: 8/595 dan Kitabul 'Ain 7/442)

10. Selalu bermuroqobah (merasa diawasi oleh) Allah 'Azza wa Jalla


Di antara penasihat yang paling agung bagi seorang dan yang  menjadikan dia mengambil faidah dari internet dan selamat dari  kejelekan-kejelekannya adalah selalu muroqqobah terhadap Alloh 'Azza wa  Jalla dan merasa selalu dilihat oleh-Nya.

وما ابصرت عيناي اجمل من فتى , يخاف مقام الله في الخلوات


Tidaklah kedua mataku melihat sesuatu yang lebih indah

Dari seorang pemuda yang takut kepada Alloh dalam keadaan sunyi sepi.

Hendaknya seorang yang berakal selalu mengingat hal ini dengan baik,  selalu mengingat bahwa yang gaib adalah nyata di sisi Alloh, maka  pantaskah seseorang menjadikan Alloh 'Azza wa Jalla adalah yang paling  tidak bernilai di antara para pemirsa kepadanya?! Maka wajib atasnya  agar menyadari bahwa barang siapa yang menyembunyikan sesuatu maka Alloh akan memakaikannya kepadanya, dan bahwa barangsiapa yang menyembunyikan sesuatu maka Alloh akan menampakkannya, sama saja apakah itu suatu  kebaikan atau kejelekan; karena sesungguhnya balasan sesuai dengan  perbuatan dan "barangsiapa yang beramal kejelekan maka akan dibalas  dengannya."

Inilah wasiat-wasiat yang agung dari para imam salaf tentang hal ini:

Abu Hazim Salamah bin Dinar berkata:

"Tidaklah seorang hamba berbuat baik antara dia dan Alloh kecuali  Alloh akan membaguskan antara dia dan para hamba, dan tidaklah dia  berbuat kejelekan antara dia dan Alloh kecuali Alloh akan menjelekkan  antara dia dan para hamba. Sungguh menjaduikan senang kepada satu wajah  adalah lebih mudah daripada menjadikan senang semua wajah, sesungguhnya  jika engkau membuat senang satu wajah tersebut maka seluruh wajah akan  condong kepadamu, dan jika engkau merusak antara dirimu dan diri-Nya,  maka seluruh wajah akan mencibirkanmu." (Siyar A'lamin Nubala': 11/124 dan Tarikhul Islam: 8/442)

Mu'tamir bin Sulaiman berkata:

"Sesungguhnya seorang laki-laki melakukan dosa dalam keadaan  sembunyi-sembunyi, dan dia memasuki waktu pagi dengan merasakan  kehinaannya." (ats-Tsiqot: 8/389)

Abu Darda' radhiyallahu 'anhu berkata:

"Sesungguhnya seorang hamba melakukan kemaksiatan terhadap Alloh  Ta'ala dalam keadaan sunyi dari manusia, maka Alloh melemparkan  kebencian terhadapnya di hati-hati orang-orang yang beriman dari arah  yang tidak dia sangka." (Shoidul Khothir hlm.235)

11. Mengingkari kemungkaran yang ada di internet


Orang yang masuk ke dalam dunia internet hendaknya jangan meremehkan  dirinya di dalam mengingkari apa yang dia pandang sebagai suatu  kemungkaran atau kejelekan di dalam internet. Dan itu semua sesuai  dengan kadar kemampuan dan kekuasaannya.

BERPERAN AKTIF DI DALAM MENYUGUHKAN HAL YANG BERMANFAAT DAN BERFAEDAH


Sebagaimana wajib atas seorang muslim menjauhkan dirinya dari  kejelekan-kejelekan internet, demikian juga selayaknya baginya –atau  wajib atasnya- tidak meluputkan dirinya dari kebaikannya, khusunya jika  dia memiliki ilmu yang mutqin tentangnya dan memiliki spesialisasi  padanya. Tidaklah selayaknya dia hanya mengupayakan tidak terjatuh di  dalam hal-hal yang diharamkan, bahkan wajib atasnya menyuguhkan hal-hal  yang bermanfaat dan berfaedah, dan partisipasi aktif, usulan-usulan yang bermanfaat, dan mengarahkan kepada website-website Islami yang  terpercaya.

RENUNGAN-RENUNGAN


Wahai Saudaraku!

Tidaklah engkau merasakan –dalam keadaan engkau membolak-balikkan  pandanganmu pada gambar-gambar porno- kegelapan di dalam hatimu,  kelemahan di dalam tubuhmu, dan suka kehinaan serta tidak butuh kepada  kenbaikan?!

Tidaklah engkau merasakan –dalam keadaan engkau menelaah  cacian-cacian dan mendengarkan apa yang dikatakan pada Fulan dan Fulan-  kesatnya hatimu, jeleknya sangkaanmu, dan kesialan di dalam pandanganmu?

Tidaklan engkau merasakan –jika engkau menghabiskan waktu berjam-jam  di depan internet tanpa faedah- kesempitan dadamu, dan keporak-porandaan pada keperluanmu? Hingga engkau tidak sadar dengan seseorang yang  berada di sampingmu, dan tidak bersemangat menerima panggilan telepon?

Sebagai kebalikan hal itu semua, tdaklah engkau merasakan semangat,  ketenangan, kebahagiaan, dan kekuatan jika engkau menyuguhkan kebaikan  dan engkau tundukkan pandangan dari hal-hal yang diharamkan, dan engkau  bertakwa kepada Allah di saat sendirian?!

PENUTUP


Inilah yang bisa kami sampaikan di dalam pembahasan ini dan akhirnya  kita memohon kepada Allah dengan nama-nama-Nya yang indah dan  sifat-sifat-Nya yang luhur agar menjauhkan kita semua dari fitnah-fitnah yang tampak dan yang tidak tampak dan agar menjadikan kita semua  sebagai kunci-kunci kebaikan dan penutup-penutup kejelekan serta  menjadikan berkah kepada kita semua di mana pun kita berada. Walhamdulillahi Robbil 'alamin.

Sumber:


Majalah al-Furqon No. 114 edisi II Tahun ke-10 Jumada Akhir 1432 H hlm. 37-42 dengan beberapa penyesuaian dari
Admin Syabab Petarukan. Dipublikasikan kembali oleh www.Salafiyunpad.wordpress.com

--

Mari Kembali Kepada Tauhid dan Sunnah, Tinggalkan Syirik dan Bid'ah.




0 komentar:

Posting Komentar