Jika Anda Bisa Mengetik dan Akses Internet, Anda Sudah Memiliki Syarat yang Cukup Untuk Menghasilkan Uang dari Bisnis Tiket Pesawat Online

BISNIS YANG BIASA TETAPI MEMILIKI POTENSI PENGHASILAN YANG LUAR BIASA

Apakah anda sudah siap untuk Bergabung??

Bergabung? silahkan klik disini

Jumat, 13 Desember 2013

Ditemukan ...Obat untuk Penis Bengkok.!


Obat untuk Penis Bengkok
Ilustrasi

Peyronie
adalah istilah medis yang menggambarkan alat kelamin pria yang bengkok. Kondisi tersebut sering kali menyulitkan kaum Adam saat mengalami ereksi, bahkan membuat ereksi terasa menyakitkan.

Namun, keadaan itu kini dapat diatasi menyusul disetujuinya obat untuk peyronie bernama Xiaflex oleh lembaga pengawas makanan dan obat Amerika Serikat (FDA).

Para peneliti mengatakan, selama ini memang sudah ada beberapa obat yang telah digunakan untuk mengatasi peyronie, tetapi sebenarnya obat-obatan itu disetujui dan dikeluarkan izinnya untuk mengobati penyakit lain.

Xiaflex merupakan obat pertama yang disetujui untuk digunakan mengobati peyronie. Selain itu, pilihan pengobatan lainnya adalah operasi.

"Disetujuinya izin edar membuat obat ini menjadi pilihan bagi pria yang mengalami penyakit peyronie," ujar Audrey Gassman, Direktur Deputi Divisi Tulang, Reproduksi, dan Produk Urologi FDA.

Xiaflex diperuntukan bagi pria yang mengalami benjolan pada penisnya, hasil dari pembengkokan paling tidak 30 derajat dari ereksi. Obat tersebut dapat menghancurkan jaringan ikat pada penis yang membuat adanya perubahan bentuk penis.

FDA menyatakan, efek samping dari obat meliputi kumpulan darah di bawah kulit penis, pembengkakan penis, nyeri pada penis, bahkan "patah" penis. Karena adanya efek samping tersebut, dokter perlu lebih berhati-hati meresepkan obat ini.

Menurut situs kesehatan Mayo Clinic, pembengkokan penis sendiri disebabkan oleh bekas luka pada jaringan di bawah kulit penis yang dirasakan seperti benjolan. Bekas luka tersebut biasanya didapat setelah penis mengalami cedera dari berhubungan seks atau olahraga.

Weill Cornell Medical College mengatakan, belum jelas berapa data pria yang mengalami kondisi tersebut, tetapi diperkirakan mencapai 1-3 persen dari populasi pria. Data sulit didapatkan karena kebanyakan pria masih sangat tertutup dengan kondisi tersebut, bahkan tidak mengetahui jika mengalaminya.

0 komentar:

Poskan Komentar